|
RENUNGAN SEJENAK ........
THE BOOK OF LIFE (17/10)
Batin yang Segar
Saya rasa daya upaya terus-menerus untuk menjadi sesuatu, untuk
mencapai sesuatu, adalah sebab sesungguhnya dari sifat destruktif batin
dan menjadi uzurnya batin. Lihat betapa cepatnya kita menjadi uzur,
bukan hanya mereka yang di atas enam puluh tahun, melainkan juga
orang-orang muda. Betapa secara mental mereka sudah uzur! Sangat
sedikit yang mempertahankan atau memelihara kualitas batin yang muda.
Yang saya maksud dengan muda bukan batin yang semata-mata ingin
bersenang-senang, berfoya-foya, melainkan batin yang tidak
terkontaminasi, yang tidak tercoreng-moreng, terpiuh, terpuntir oleh
berbagai kejadian dan pengalaman dalam kehidupan, batin yang tidak aus
oleh perjuangan, oleh kesedihan, oleh pergulatan terus-menerus. Memang
perlu memiliki batin yang muda, karena batin yang uzur penuh dengan
parut ingatan sehingga ia tidak mampu hidup, tidak mampu
bersungguh-sungguh, ia batin yang mati, batin yang telah berketetapan.
Suatu batin yang telah mengambil keputusan dan menjalani hidup sesuai
dengan keputusannya adalah batin yang mati. Tetapi batin yang muda
adalah batin yang selalu melihat secara baru; suatu batin yang segar
tidak membebani dirinya dengan ingatan yang tak terhitung banyaknya.
Suatu batin yang tidak membawa-bawa bayangan penderitaan; sekalipun
mungkin berjalan di dalam lembah kesedihan, ia tetap tak tergores. ...
Saya rasa batin yang muda seperti itu bukan untuk diperoleh. Ia bukan
suatu barang yang bisa dibeli melalui daya upaya, melalui pengorbanan.
Tidak ada mata uang untuk memperolehnya, dan itu bukan sesuatu yang
bisa diperjualbelikan. Tetapi jika Anda melihat pentingnya hal itu,
perlunya hal itu, jika Anda melihat kebenarannya, maka terjadilah
sesuatu yang lain.
THE BOOK OF LIFE (19/10)
Sebuah Batin Tanpa Tambatan atau Pelabuhan
Anda membutuhkan batin yang baru, batin yang bebas dari waktu, batin
yang tidak lagi berpikir dalam kerangka jarak dan ruang, batin yang
tidak mempunyai cakrawala, batin yang tidak mempunyai tambatan atau
pelabuhan. Anda membutuhkan batin seperti itu untuk berhadapan bukan
hanya dengan apa yang abadi, melainkan juga dengan masalah-masalah
eksistensi saat kini.
Maka masalahnya adalah: Mungkinkah bagi kita masing-masing untuk
memiliki batin seperti itu? Bukan berangsur-angsur, bukan memupuknya,
oleh karena pemupukan, pengembangan, proses berarti waktu. Hal itu
harus terjadi dengan seketika; harus ada transformasi sekarang, dalam
arti suatu kualitas tanpa-waktu. Kehidupan adalah kematian, dan
kematian menanti Anda; Anda tidak dapat berdebat dengan kematian
seperti Anda berdebat dengan kehidupan. Jadi, mungkinkah memiliki batin
seperti itu?–bukan sebagai pencapaian, bukan sebagai cita-cita,
bukan sebagai sesuatu yang harus diraih, bukan sebagai sesuatu yang
harus dituju, karena semua itu berarti waktu dan ruang. Kita mempunyai
teori yang nyaman dan mewah bahwa ada waktu untuk maju, untuk sampai,
untuk mencapai, untuk datang kepada kebenaran. Ini adalah gagasan yang
salah, ini ilusi sepenuhnya—dalam arti itulah waktu adalah ilusi.
THE BOOK OF LIFE (21/10)
Ada Suatu Keheningan
Saya harap Anda dapat menyimak, tetapi bukan dengan ingatan akan apa
yang telah Anda ketahui; dan ini amat sukar dilakukan. Anda menyimak
sesuatu, dan batin Anda bereaksi seketika dengan pengetahuannya,
kesimpulannya, opininya, ingatan masa lampaunya. Ia menyimak,
memeriksa, untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut. Amatilah diri Anda
sendiri, bagaimana Anda menyimak, dan Anda akan melihat inilah yang
terjadi. Entah Anda menyimak dengan sebuah kesimpulan, dengan
pengetahuan, dengan ingatan, dengan pengalaman tertentu, atau Anda
menginginkan suatu jawaban, dan Anda tidak sabar. Anda ingin tahu apa
makna semua ini, apa makna kehidupan ini, kehidupan yang luar biasa
rumitnya ini. Sesungguhnya Anda tidak benar-benar menyimak. Anda hanya
bisa menyimak bila batin ini hening, bila batin tidak bereaksi dengan
seketika, bila ada selang waktu antara reaksi Anda dengan apa yang
disampaikan. Maka di dalam selang waktu itu terdapat suatu keheningan,
terdapat suatu kesunyian, yang hanya di situ bisa terjadi pemahaman,
yang bukan pemahaman intelektual. Jika ada selang waktu antara apa yang
dikatakan dengan reaksi Anda sendiri terhadap apa yang dikatakan, maka
di dalam selang waktu itu—entah Anda memanjangkannya secara tak
terbatas, untuk waktu lama, entah hanya beberapa detik—di dalam
selang waktu itu, jika Anda amati, muncullah kejernihan. Selang waktu
itulah otak yang baru. Reaksi seketika adalah otak lama, dan otak lama
berfungsi dalam suasana yang tradisional, yang diterima, yang
reaksioner, seperti hewan. Bila ini bisa ditiadakan, bila reaksi bisa
dihentikan, bila ada selang waktu, maka Anda akan melihat bahwa otak
baru bertindak; dan hanyalah otak baru yang bisa memahami, bukan otak
lama.
THE BOOK OF LIFE (25/10)
Kekosongan Sempurna
Agar perubahan sempurna di dalam kesadaran bisa terjadi, Anda harus
menolak analisis dan pencarian, dan tidak lagi dipengaruhi
apa-apa—yang adalah amat sukar. Batin, ketika melihat apa yang
palsu, mengesampingkan sama sekali apa yang palsu. Jika Anda sudah
mengetahui apa yang benar, maka Anda hanya menukar apa yang Anda anggap
palsu dengan apa yang Anda bayangkan sebagai benar. Tidak ada lagi
pelepasan jika Anda tahu apa yang akan Anda peroleh sebagai
ganjarannya. Hanya ada pelepasan jika Anda melepaskan sesuatu tanpa
mengetahui apa yang akan terjadi. Keadaan pengingkaran adalah mutlak
perlu. Harap ikuti ini dengan berhati-hati, oleh karena jika Anda sudah
melangkah sejauh itu, Anda akan melihat bahwa di dalam keadaan
pengingkaran itu Anda menemukan apa yang benar; oleh karena
pengingkaran adalah pengosongan kesadaran dari apa yang diketahui.
Bagaimana pun juga, kesadaran adalah berdasar pada pengetahuan, pada
pengalaman, pada warisan rasial, pada ingatan, pada hal-hal yang telah
dialami. Pengalaman selalu berasal dari masa lampau, bekerja pada masa
kini, diubah sedikit oleh masa kini dan berlanjut ke masa depan. Itulah
semuanya yang disebut kesadaran, timbunan luas dari abad demi abad. Ia
hanya mempunyai manfaat dalam kehidupan secara mekanis. Menolak semua
pengetahuan ilmiah yang diperoleh dari masa lampau yang panjang adalah
absurd. Tetapi untuk mendatangkan perubahan dalam kesadaran, revolusi
dalam seluruh struktur ini, haruslah ada kekosongan sempurna. Dan
kekosongan itu hanya mungkin ada bila ada penemuan, melihat
sesungguhnya, apa yang palsu. Maka Anda akan melihat, jika Anda telah
melangkah sejauh itu, bahwa kekosongan itu sendiri menghasilkan
revolusi lengkap di dalam kesadaran; itu telah terjadi.
THE BOOK OF LIFE (31/10)
Revolusi Psikologis
Mungkinkah
bagi si pemikir dan pikiran, bagi si pengamat dan yang diamati, menjadi
satu? Anda tidak akan menemukannya jika Anda hanya sekadar menengok
masalah ini dan secara dangkal bertanya kepada saya apa yang saya
maksud dengan ini-itu. Jelas, ini adalah masalah Anda, bukan hanya
masalah saya semata-mata; Anda tidak berada di sini untuk melihat
bagaimana saya memandang masalah ini atau masalah-masalah lain di
dunia. Pertempuran terus-menerus di dalam batin ini, yang begitu
destruktif, begitu menggerogoti—ini adalah masalah Anda, bukan?
Dan juga masalah Anda adalah bagaimana mendatangkan suatu perubahan
radikal dalam diri Anda, dan tidak sekadar puas dengan perubahan
dangkal di bidang politik, ekonomi, di dalam bermacam-macam birokrasi.
Anda jangan mencoba memahami saya atau cara saya memandang kehidupan.
Cobalah memahami diri Anda sendiri, dan ini adalah masalah-masalah Anda
yang harus Anda hadapi. Dan dengan mengkajinya
bersama-sama—itulah yang kita lakukan dalam ceramah-ceramah
ini—mungkin kita dapat saling membantu untuk bisa memandangnya
dengan lebih jernih, melihatnya lebih jelas. Tetapi melihat jelas di
tingkat kata-kata saja tidaklah cukup. Itu tidak mendatangkan suatu
perubahan psikologis yang kreatif. Kita harus melangkah melampaui
kata-kata, melampaui semua simbol serta apa yang dirasakan darinya. ...
Kita harus mengesampingkan semua ini dan masuk ke masalah
pokok—bagaimana melenyapkan sang ’aku’, yang mengikat
waktu, yang di situ tidak ada cinta, tidak ada welas asih. Kita hanya
bisa mengatasi itu apabila batin tidak memisahkan dirinya menjadi si
pemikir dan pikiran. Apabila si pemikir dan pikiran menjadi satu, hanya
di situlah bisa terdapat keheningan, keheningan yang di situ tidak
terdapat pembuatan gambar, atau menunggu pengalaman berikutnya. Di
dalam keheningan itu tidak ada dia yang mengalami, dan hanya di situlah
terdapat revolusi psikologis yang kreatif.
THE BOOK OF LIFE (03/11)
Kreativitas Anonim
Pernahkah Anda merenungkannya? Kita ingin menjadi termasyhur sebagai
penulis, penyair, pelukis, politisi, penyanyi, apa saja. Kenapa? Oleh
karena kita sesungguhnya tidak mencintai apa yang kita kerjakan. Jika
Anda cinta menyanyi, atau melukis, atau menulis sajak—jika Anda
sungguh-sungguh cinta itu—Anda tidak akan peduli apakah Anda
termasyhur atau tidak. Ingin menjadi termasyhur adalah murahan, remeh,
bodoh, tidak punya arti; tetapi, karena kita tidak mencintai apa yang
kita kerjakan, kita ingin memperkaya diri kita dengan kemasyhuran.
Pendidikan kita yang sekarang ini bobrok, oleh karena ia mengajarkan
kita untuk mencintai kesuksesan, dan bukan mencintai apa yang kita
kerjakan. Hasil menjadi lebih penting daripada tindakan.
Adalah baik untuk menyembunyikan kecemerlangan Anda di balik karung,
untuk anonim, mencintai apa yang Anda lakukan dan tidak memamerkannya.
Adalah baik untuk ramah tanpa sebuah nama. Itu tidak membuat Anda
termasyhur, itu tidak membuat foto Anda terpampang di koran. Para
politisi tidak berkunjung ke rumah Anda. Anda sekadar manusia kreatif
yang hidup anonim, dan di situ terdapat kekayaan dan keindahan besar.
THE BOOK OF LIFE (08/11)
Hiduplah di Dunia Secara Anonim
Mungkinkah
hidup di dunia ini tanpa ambisi, sekadar menjadi diri Anda apa adanya?
Jika Anda mulai memahami diri Anda apa adanya, tanpa berupaya
mengubahnya, maka apa adanya diri Anda akan mengalami transformasi.
Saya rasa kita bisa hidup di dunia ini secara anonim, sama sekali tak
dikenal, tanpa menjadi termasyhur, penuh ambisi, kejam. Kita bisa hidup
sangat berbahagia bila tidak menganggap penting diri kita; dan ini juga
bagian dari pendidikan yang benar.
Seluruh dunia memuja sukses. Anda mendengar kisah-kisah bagaimana
seorang anak miskin belajar di waktu malam dan akhirnya menjadi hakim,
atau bagaimana ia mulai dengan menjual koran dan berakhir dengan
menjadi multimilyuner. Anda dijejali pemuliaan sukses. Bersama
pencapaian sukses besar terdapat pula kesedihan besar; tetapi
kebanyakan dari kita terperangkap dalam keinginan untuk mencapai, dan
sukses jauh lebih penting bagi kita daripada pemahaman dan pengakhiran kesedihan.
THE BOOK OF LIFE (16/11)
Di Dalam Kematian Terdapat Keabadian
Sesungguhnya,
di dalam pengakhiran terdapat pembaruan, bukan? Hanya di dalam kematian
sesuatu yang baru bisa muncul. Saya tidak memberi Anda kenyamanan. Ini
bukan sesuatu untuk dipercaya atau dipikir-pikir atau secara
intelektual diselidiki dan diterima, oleh karena kalau begitu Anda akan
membuatnya menjadi suatu kenyamanan kembali, seperti Anda sekarang
percaya akan reinkarnasi atau kelangsungan di akhirat, dan sebagainya.
Tetapi fakta yang aktual adalah bahwa sesuatu yang berlangsung tidak
punya kelahiran kembali, tidak punya pembaruan. Oleh karena itu, di
dalam mati setiap hari terdapat pembaruan, terdapat kelahiran kembali.
Itulah keabadian. Di dalam kematian terdapat keabadian—bukan
kematian yang Anda takuti, melainkan kematian dari
kesimpulan-kesimpulan, ingatan-ingatan, pengalaman-pengalaman yang
lalu, semua yang Anda kenal sebagai ‘aku’. Dengan matinya
‘aku’ setiap menit terdapat keabadian, terdapat kekekalan,
terdapat sesuatu yang dialami—bukan untuk direka-reka atau
diceramahkan, seperti yang Anda lakukan dengan reinkarnasi dan
sebagainya itu. ...
Bila Anda tidak lagi takut, oleh karena setiap menit terdapat
pengakhiran dan oleh karena itu pembaruan, maka Anda akan terbuka
terhadap yang tak diketahui. Realitas adalah yang tak diketahui.
Kematian adalah juga yang tak diketahui. Tetapi mengatakan bahwa
kematian adalah indah, mengatakan betapa mengagumkannya kematian karena
kita akan berlangsung terus di akhirat dan semua nonsens seperti itu,
tidak punya kenyataan. Yang nyata adalah memandang kematian sebagaimana
adanya—pengakhiran; pengakhiran yang di situ terdapat pembaruan,
kelahiran kembali, bukan kelangsungan. Karena sesuatu yang berlangsung
pasti akan luruh; tetapi sesuatu yang mampu memperbarui dirinya adalah
abadi.
THE BOOK OF LIFE (17/11)
Reinkarnasi Pada Dasarnya Egoistik
Anda ingin saya memberi jaminan kepada Anda bahwa Anda akan hidup terus
dalam kehidupan yang akan datang, tetapi di situ tidak ada kebahagiaan
maupun kebijaksanaan. Mencari kehidupan kekal melalui reinkarnasi pada
dasarnya egoistik, dan oleh karena itu tidak benar. Pencarian Anda akan
kehidupan kekal hanyalah wujud lain dari keinginan akan kelangsungan
reaksi-reaksi mempertahankan-diri melawan kehidupan dan kecerdasan.
Kehausan seperti itu hanya akan menghasilkan ilusi. Jadi yang penting
bukanlah apakah ada reinkarnasi atau tidak, melainkan mencapai
pemenuhan lengkap pada saat sekarang. Dan Anda hanya dapat melakukan
itu apabila hati dan pikiran Anda tidak lagi melindungi diri terhadap
kehidupan. Pikiran ini licin dan halus dalam mempertahankan diri, dan
ia harus melihat sendiri sifat ilusif dari perlindungan-diri. Ini
berarti Anda harus berpikir dan bertindak secara baru sepenuhnya. Anda
harus membebaskan diri dari jaring nilai-nilai palsu yang diterapkan
oleh lingkungan kepada Anda. Harus ada ketelanjangan sama sekali. Maka
di situ terdapat kehidupan kekal, realitas.
THE BOOK OF LIFE (23/11)
Cinta Tidak Dipupuk
Cinta tidak untuk dipupuk. Cinta tidak bisa dibagi menjadi cinta ilahi
dan cinta jasmaniah; hanya ada cinta—bukan Anda mencintai seorang
atau mencintai banyak orang. Pertanyaan ini juga absurd, ”Apakah
Anda mencintai semua orang?” Lihat, sekuntum bunga yang harum
tidak peduli siapa yang datang menghirup keharumannya, atau siapa yang
berpaling membelakanginya. Begitu pula cinta. Cinta bukan ingatan.
Cinta bukan berasal dari batin atau intelek. Tetapi ia muncul secara
alamiah sebagai welas asih, bila seluruh problem eksistensi
ini—sebagai ketakutan, keserakahan, iri hati, keputusasaan,
harapan—telah terpahami dan terselesaikan. Seorang yang penuh
ambisi tidak bisa mencinta. Seorang yang melekat kepada keluarganya
tidak punya cinta. Begitu pula cemburu tidak ada kaitannya dengan
cinta. Bila Anda berkata, “Aku mencintai istriku,”
sesungguhnya Anda tidak bermaksud demikian, oleh karena pada saat
berikutnya Anda cemburu kepadanya.
Cinta menyiratkan kebebasan besar—bukan untuk berbuat sesuka
hati. Tetapi cinta muncul hanya apabila batin sangat hening, tidak
berkepentingan, tidak berpusat pada diri sendiri. Ini bukan cita-cita.
Jika Anda tidak punya cinta—apa pun yang Anda
lakukan—mencari tuhan ke seluruh pelosok dunia, melakukan semua
kegiatan sosial, mencoba mengentaskan kemiskinan, berpolitik, menulis
buku, menulis sajak—Anda manusia mati. Dan tanpa cinta problem
Anda akan bertambah, berkembang biak tanpa henti. Dan dengan cinta, apa
pun yang Anda lakukan, tidak ada risiko; tidak ada konflik. Maka cinta
adalah intisari kebajikan. Dan sebuah batin yang tidak berada dalam
keadaan cinta bukan batin yang religius sama sekali. Dan hanya batin
yang religius yang bebas dari problem, dan yang tahu keindahan cinta
dan kebenaran.
THE BOOK OF LIFE (25/11)
Cinta Itu Berbahaya
Bagaimana orang bisa hidup tanpa cinta? Kita hanya bisa eksis, dan
eksistensi tanpa cinta berarti pengendalian, kebingungan dan
kesakitan—dan itulah yang diciptakan oleh kebanyakan dari kita.
Kita berorganisasi demi eksistensi dan kita menerima konflik sebagai
sesuatu yang tak dapat dihindarkan oleh karena eksistensi kita adalah
tuntutan tanpa henti akan kekuasaan. Sesungguhnya, bila kita mencinta,
organisasi mempunyai perannya sendiri, peran yang benar; tetapi tanpa
cinta, organisasi menjadi hal yang menakutkan, sekadar sesuatu yang
mekanis dan efisien, seperti tentara; seperti masyarakat modern
berdasarkan sekadar efisiensi, kita harus memiliki tentara—dan
tujuan tentara adalah menciptakan perang. Bahkan pada masa yang disebut
damai, semakin kita menjadi efisien secara intelektual, makin kita
tidak kenal kasihan, makin brutal, makin berhati dingin. Itulah
sebabnya mengapa ada kebingungan di dunia, mengapa birokrasi menjadi
semakin berkuasa, mengapa makin banyak pemerintahan menjadi totaliter.
Kita pasrah terhadap semua ini sebagai sesuatu yang tak bisa
dihindarkan karena kita hidup dengan otak kita dan bukan dengan hati
kita, dan oleh karena itu tidak ada cinta. Cinta adalah unsur yang
paling berbahaya dan tidak pasti dalam kehidupan; dan karena kita tidak
ingin merasa tidak pasti, karena kita tidak ingin berada dalam bahaya,
maka kita hidup di dalam pikiran. Seorang yang mencinta adalah
berbahaya, dan kita tidak ingin hidup secara berbahaya; kita ingin
hidup secara efisien, kita ingin sekadar hidup di dalam kerangka
organisasi karena kita mengira organisasi akan membawa ketertiban dan
kedamaian di dunia. Organisasi tidak pernah menghasilkan ketertiban dan
kedamaian. Hanya cinta, hanya kemauan baik, hanya pengampunan dapat
menghasilkan ketertiban dan kedamaian, pada akhirnya dan oleh karena
itu sekarang.
THE BOOK OF LIFE (28/11)
Welas Asih dan Kebaikan
Dapatkah
welas asih, rasa kebaikan, rasa kesucian dari kehidupan, yang telah
kita bicarakan pada waktu terakhir kali kita bertemu—dapatkah
perasaan itu dihasilkan melalui paksaan? Sesungguhnya, bila ada paksaan
dalam bentuk apa pun, bila ada propaganda atau moralisasi, tidak ada
welas asih; juga tidak ada welas asih jika perubahan diadakan sekadar
dengan melihat perlunya menghadapi tantangan teknologi sedemikian rupa
sehingga manusia akan tetap manusia dan bukan menjadi mesin. Jadi
haruslah ada perubahan tanpa sebab apa pun juga. Suatu perubahan yang
dihasilkan melalui sebab bukanlah welas asih; itu hanya barang dagangan
di pasar. Itu satu masalah.
Masalah lain adalah, jika saya berubah, bagaimana itu akan mempengaruhi
masyarakat? Atau apakah saya tidak peduli sama sekali dengan itu? Oleh
karena sebagian terbesar manusia tidak tertarik kepada apa yang kita
bicarakan; Anda juga tidak, jika Anda menyimak hanya karena ingin tahu
atau didorong oleh suatu dorongan tertentu, lalu pergi. Mesin-mesin
berkembang begitu pesat sehingga manusia hanya didorong maju, dan tidak
mampu menghadapi kehidupan dengan kekayaan cinta, dengan welas asih,
dan dengan renungan mendalam. Dan jika saya berubah, bagaimana itu akan
mempengaruhi masyarakat, yang adalah hubungan saya dengan Anda?
Masyarakat bukanlah suatu entitas mitis yang luar biasa; itu adalah
hubungan kita satu sama lain; dan jika dua atau tiga orang di antara
kita berubah, bagaimana itu akan mempengaruhi dunia selebihnya? Atau
adakah cara untuk mempengaruhi batin manusia secara total?
Artinya, adakah suatu proses, yang dengan itu individu yang telah berubah dapat menyentuh bawah-sadar manusia?
THE BOOK OF LIFE (29/11)
Memancarkan Welas Asih
Jika
saya berminat dengan welas asih, ... dengan cinta, dengan rasa
sesungguhnya akan sesuatu yang suci, lalu bagaimana perasaan itu
dipancarkan? Harap ikuti ini. Jika saya memancarkannya melalui mikrofon
ini, melalui mesin propaganda, dan dengan demikian meyakinkan orang
lain, hatinya akan tetap kosong. Api ideologi akan bekerja, dan ia
hanya akan mengulang, seperti Anda semua mengulang, bahwa kita harus
ramah, baik, bebas—semua nonsens yang dikatakan oleh para
politisi, kaum sosialis, dan lainnya. Jadi, melihat bahwa bentuk
paksaan apa pun, betapa pun halusnya, tidak menghasilkan keindahan ini,
mekarnya kebaikan, mekarnya welas asih, apakah yang harus dilakukan
oleh individu?
Apakah hubungan antara orang yang memiliki rasa welas asih ini dengan
orang yang batinnya terperangkap dalam yang kolektif, dalam yang
tradisional? Bagaimana Anda menemukan hubungan antara keduanya, bukan
secara teoretis, melainkan secara aktual? ...
Sesuatu yang menyesuaikan diri tidak pernah mekar dalam kebaikan. Harus
ada kebebasan, dan kebebasan hanya muncul apabila Anda memahami seluruh
problem iri hati, keserakahan, ambisi, dan keinginan akan kekuasaan.
Kebebasan dari hal-hal itulah yang memungkinkan keluarbiasaan yang
dinamakan karakter untuk mekar. Orang seperti itu memiliki welas asih,
ia tahu apa artinya mencinta—bukan orang yang hanya
mengulang-ulang ribuan kata tentang moralitas.
Jadi mekarnya kebaikan tidak terletak di dalam masyarakat, oleh karena
masyarakat itu sendiri selalu korup. Hanya orang yang memahami seluruh
struktur dan proses masyarakat, dan membebaskan diri darinya, memiliki
karakter, dan hanya dialah yang dapat memekarkan kebaikan.
THE BOOK OF LIFE (02/12)
Kesendirian Bukan Kesepian
Sekalipun kita semua sama-sama manusia, kita membangun dinding di
antara kita dan tetangga kita melalui nasionalisme, melalui ras, kasta,
dan kelas—yang lalu menimbulkan isolasi, kesepian.
Nah, batin yang terperangkap dalam kesepian, dalam keadaan terisolasi,
tidak mungkin dapat memahami apa itu agama. Ia mungkin percaya, ia
mungkin memiliki teori, konsep, akidah, ia mungkin mencoba
menghubungkan dirinya dengan apa yang disebutnya ’Tuhan’;
tetapi agama, menurut saya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan
kepercayaan apa pun, dengan rohaniwan apa pun, dengan lembaga keagamaan
apa pun, atau apa yang dinamakan ’kitab suci’ mana pun.
Keadaan batin yang religius hanya dapat dipahami apabila kita
mulai mengerti apa itu keindahan; dan pemahaman keindahan harus
didekati melalui kesendirian total. Hanya apabila batin berada sendiri
sepenuhnya, ia dapat mengetahui apa itu keindahan, dan tidak dalam
keadaan lain apa pun.
Kesendirian jelas bukan isolasi, dan itu bukan keunikan. Unik hanyalah
sekadar istimewa dalam salah satu hal, sedangkan untuk berada sendiri
sepenuhnya dituntut kepekaan, kecerdasan, pemahaman luar biasa. Untuk
berada sendiri sepenuhnya berarti batin sepenuhnya bebas dari segala
macam pengaruh, dan oleh karena itu tidak tercemar oleh masyarakat; dan
ia harus berada sendiri untuk memahami apa itu agama—yang berarti
menemukan sendiri apakah ada sesuatu yang abadi, di luar waktu.
THE BOOK OF LIFE (05/12)
Orang Yang Sendiri Adalah Polos
Salah satu penyebab penderitaan adalah kesepian luar biasa manusia.
Anda mungkin memiliki teman, Anda mungkin memiliki tuhan-tuhan, Anda
mungkin memiliki pengetahuan yang luas, Anda mungkin aktif luar biasa
di bidang sosial, bergunjing tidak habis-habisnya tentang
politik—dan itulah yang dilakukan oleh kebanyakan
politisi—dan kesepian ini tetap ada. Oleh karena itu manusia
mencari suatu makna dalam kehidupan, dan ia menciptakan suatu makna,
suatu arti. Tetapi kesepian itu tetap ada. Jadi, dapatkah Anda
memandangnya tanpa pembandingan sedikit pun, sekadar melihat apa
adanya, tanpa mencoba lari darinya, tanpa mencoba menutupinya, atau
meloloskan diri darinya? Maka Anda akan melihat kesepian itu menjadi
sesuatu yang lain sama sekali.
Kita tidak sendiri. Kita adalah hasil dari ribuan pengaruh, ribuan
pengkondisian, warisan psikologis, propaganda, budaya. Kita tidak
sendiri, dan oleh karena itu kita adalah manusia bekas. Bila kita
sendiri, sendiri sepenuhnya, tidak termasuk keluarga apa
pun—sekalipun mungkin kita punya keluarga—juga tidak
termasuk bangsa apa pun, budaya apa pun, komitmen apa pun, terdapat
rasa sebagai orang luar—orang luar terhadap setiap bentuk
pikiran, tindakan, keluarga, bangsa. Dan hanyalah dia yang sepenuhnya
sendiri yang polos. Kepolosan inilah yang membebaskan batin dari
penderitaan.
THE BOOK OF LIFE (07/12)
Kesendirian Yang Di Situ Tidak Ada Ketakutan
Hanya jika batin mampu menanggalkan semua pengaruh, semua campur tangan, dan berada sepenuhnya sendiri ... terdapat kreativitas.
Di dunia, makin lama makin banyak teknik dikembangkan—teknik
bagaimana menpengaruhi orang melalui propaganda, melalui pemaksaan,
melalui peniruan. ... Tak terhitung banyaknya buku ditulis tentang
bagaimana melakukan ini-itu, bagaimana berpikir efisien, bagaimana
membangun rumah, bagaimana membuat mesin, sehingga berangsur-angsur
kita kehilangan inisiatif, inisiatif untuk memikirkan sesuatu yang
orisinal bagi kita sendiri. Dalam pendidikan kita, dalam hubungan kita
dengan pemerintah, dengan berbagai cara, kita dipengaruhi untuk
menyesuaikan diri, untuk meniru. Dan bila kita membiarkan suatu
pengaruh membujuk kita untuk mengambil sikap atau tindakan tertentu,
dengan sendirinya kita menciptakan perlawanan terhadap
pengaruh-pengaruh yang lain. Di dalam proses menciptakan perlawanan
terhadap pengaruh lain, tidakkah kita menyerah kepadanya secara negatif?
Tidakkah batin seharusnya selalu berada dalam keadaan berontak, untuk
dapat memahami berbagai pengaruh yang selalu menerpa, mencampuri,
mengendalikan, membentuk? Bukankah salah satu sifat batin yang remeh
adalah bahwa ia selalu ketakutan, dan—karena bingung—ia
menghendaki ketertiban, ia menghendaki konsistensi, ia menghendaki
suatu wujud, suatu bentuk yang dapat menuntunnya dan mengendalikannya.
Namun, wujud-wujud ini, berbagai pengaruh ini menciptakan kontradiksi
di dalam individu, menciptakan kebingungan di dalam individu. ...
Pilihan apa pun di antara berbagai pengaruh itu tetap berada di dalam
keremehan itu.
... Tidakkah batin seharusnya memiliki kemampuan untuk
menyelami—bukan meniru, bukan dibentuk—dan untuk berada
tanpa ketakutan? Tidakkah seharusnya batin seperti itu berada sendiri
dan dengan demikian kreatif? Kreativitas seperti bukan milik Anda atau
milik saya; dia anonim.
THE BOOK OF LIFE (08/12)
Mulailah di Sini
Seorang yang religius tidak mencari Tuhan. Orang yang religius berminat
untuk mengubah masyarakat, yang adalah dirinya sendiri. Orang yang
religius bukanlah orang yang melakukan ritual terus-menerus, mengikuti
tradisi, hidup dalam budaya masa lampau yang mati, menafsirkan tanpa
henti kitab-kitab suci, mengaji tanpa henti, atau menjadi
rahib—itu bukan orang yang religius; orang seperti itu lari dari
kenyataan. Orang yang religius berminat secara total dan penuh untuk
memahami masyarakat, yang adalah dirinya sendiri. Ia tidak terpisah
dari masyarakat. Menghasilkan dalam dirinya suatu perubahan yang total
dan lengkap berarti berakhirnya secara menyeluruh keserakahan, iri
hati, ambisi; dan oleh karena itu ia tidak tergantung pada
peristiwa-peristiwa di sekitarnya, sekalipun ia adalah hasil dari
peristiwa-peristiwa di sekitarnya—dari makanan yang dimakannya,
buku yang dibacanya, film yang ditontonnya, dogma, kepercayaan, ritual
agama dan sebagainya. Ia bertanggung jawab, dan oleh karena itu seorang
yang religius harus memahami dirinya, yang adalah produk masyarakat
yang diciptakannya sendiri. Oleh karena itu, untuk menemukan realitas
ia harus mulai di sini—bukan di dalam sebuah tempat ibadah, bukan
pada sebuah gambar—baik gambar itu dibuat oleh tangan atau oleh
pikiran. Kalau tidak, bagaimana ia bisa menemukan sesuatu yang sama
sekali baru, suatu keadaan baru?
THE BOOK OF LIFE (09/12)
Batin Yang Religius Adalah Eksplosif
Dapatkah kita menemukan sendiri apakah batin religius itu? Seorang
ilmuwan di laboratoriumnya adalah sungguh-sungguh ilmuwan; ia tidak
dipengaruhi oleh nasionalismenya, oleh ketakutannya, oleh
kebanggaannya, ambisinya, dan tuntutan-tuntutan lokal; di situ ia
sekadar meneliti. Tetapi di luar laboratorium, ia seperti orang lain
memiliki prasangka, ambisi, kebangsaan, kebanggaan, kecemburuan, dan
sebagainya. Batin seperti itu tidak dapat mendekati batin yang
religius. Batin yang religius tidak berfungsi dari suatu pusat
otoritas, baik pusat itu kumpulan pengetahuan sebagai tradisi, maupun
pusat sebagai pengalaman—yang sesungguhnya adalah kelangsungan
tradisi, kelangsungan pengkondisian. Batin yang religius tidak berpikir
dalam kerangka waktu, hasil yang langsung, pembaruan langsung di dalam
pola masyarakat. ... Kami mengatakan batin yang religius bukanlah batin
yang ritualistik; ia tidak termasuk suatu agama apa pun, kelompok apa
pun, pola pikir apa pun. Batin yang religius adalah batin yang telah
masuk ke dalam yang tak diketahui, dan Anda tidak mungkin masuk ke
dalam yang tak diketahui kecuali dengan melompat; Anda tidak dapat
menghitung-hitung dengan teliti dan masuk ke dalam yang tak diketahui.
Batin yang religius adalah batin revolusioner yang sesungguhnya, dan
batin revolusioner bukanlah reaksi terhadap apa yang ada. Batin yang
religius sesungguhnya eksplosif, kreatif—bukan dalam arti kata
‘kreatif’ yang biasa diterima, seperti dalam sebuah syair,
dekorasi, atau bangunan, seperti arsitektur, musik, puisi, dan
sebagainya—ia berada dalam keadaan mencipta.
THE BOOK OF LIFE (16/12)
Agama Sejati
Tahukah Anda apa agama itu? Agama bukan di dalam mengaji, ia bukan di
dalam puja, atau ritual apa pun, ia bukan di dalam pemujaan terhadap
Tuhan perunggu atau arca batu, ia bukan di dalam kuil-kuil atau
gereja-gereja [tempat ibadah], ia bukan di dalam membaca Bhagavad-Gita
atau Alkitab [kitab suci], ia bukan di dalam pengulangan sebuah kata
keramat atau di dalam mengikuti takhyul lain yang dibuat manusia. Semua
itu bukan agama.
Agama adalah rasa kebaikan, cinta yang bagaikan sungai, hidup, bergerak
sepanjang zaman. Dalam keadaan itu Anda akan menemukan bahwa akan
datang suatu saat yang di situ tidak ada lagi pencarian sama sekali;
dan berakhirnya pencarian ini adalah awal dari sesuatu yang sama sekali
lain. Mencari Tuhan, kebenaran, rasa baik sepenuhnya—bukan
memupuk kebaikan, kerendahan hati, melainkan mencari sesuatu yang
berada di luar buatan atau tipuan pikiran, melainkan merasakan adanya
sesuatu itu, hidup di dalamnya, menjadi dia—itulah agama sejati.
Tetapi Anda hanya dapat melakukannya apabila Anda meninggalkan genangan
kolam yang telah Anda gali untuk diri Anda, lalu terjun ke dalam sungai
kehidupan. Maka kehidupan mempunyai cara yang mencengangkan untuk
memelihara Anda, oleh karena di situ Anda tidak memelihara diri Anda
sendiri. Kehidupan membawa Anda ke mana ia suka, karena Anda adalah
bagian darinya; maka tidak ada lagi masalah keamanan, masalah apa yang
dikatakan atau tidak dikatakan orang, dan itulah keindahan kehidupan.
THE BOOK OF LIFE (19/12)
Orang Religius
Apakah keadaan batin yang berkata, ”Saya tidak tahu apakah ada
Tuhan, apakah ada cinta,” yakni ketika tidak ada respons dari
ingatan? Harap jangan menjawab pertanyaan ini dengan seketika kepada
diri sendiri, oleh karena jika Anda lakukan itu, jawaban Anda hanyalah
sekadar mengenali apa yang Anda pikir begini atau bukan begitu. Jika
Anda berkata, ”Itu adalah keadaan negasi,” Anda
membandingkannya dengan sesuatu yang telah Anda ketahui; oleh karena
itu, keadaan yang di situ Anda berkata, ”Saya tidak tahu,”
tidak ada. ...
Maka, batin yang mampu berkata, ”Saya tidak tahu,” ia
berada dalam satu-satunya keadaan yang di situ dapat ditemukan apa pun.
Tetapi orang yang berkata, ”Saya tahu,” orang yang telah
mempelajari berbagai pengalaman manusia yang tak terhitung banyaknya,
dan yang batinnya penuh dengan beban informasi, penuh dengan
pengetahuan ensiklopedik, dapatkah ia mengalami sesuatu yang tidak
tertimbun? Itu akan sangat sukar baginya. Bila batin mengesampingkan
secara total seluruh pengetahuan yang pernah dikumpulkannya, yang
baginya tidak ada lagi Buddha-Buddha, Kristus-Kristus, para Master,
para guru, agama-agama, kutipan-kutipan; bila batin berada sendiri
sepenuhnya; tidak tercemar, yang berarti bahwa gerakan dari apa yang
diketahui telah berhenti, hanya di situ ada kemungkinan suatu revolusi
yang hebat, suatu perubahan fundamental. ... Orang religius adalah
orang yang tidak merasa dirinya termasuk suatu agama apa pun, bangsa
apa pun, ras apa pun, yang di dalam dirinya berada sendirian
sepenuhnya; berada dalam keadaan tidak tahu; dan bagi dia muncullah
berkah dari yang suci.
THE BOOK OF LIFE (27/12)
Batin Dalam Keadaan Kreasi
Meditasi adalah pengosongan batin dari segala sesuatu yang telah
dibentuk oleh batin. Jika Anda lakukan itu—mungkin Anda tidak
akan melakukannya, tapi tidak apa-apa, dengarkan saja—maka Anda
akan mendapati ada suatu ruang luar biasa di dalam batin, dan ruang itu
adalah kebebasan. Maka Anda harus menuntut kebebasan dari sejak awal,
dan bukan sekadar menunggu, berharap akan mendapatkannya pada akhirnya.
Anda harus mencari makna kebebasan dalam pekerjaan Anda, dalam hubungan
Anda, dalam segala sesuatu yang Anda lakukan. Maka Anda akan menemukan
bahwa meditasi adalah kreasi.
Kreasi adalah suatu istilah yang kita gunakan dengan enteng, dengan
mudah. Seorang pelukis mengoleskan beberapa warna di atas kanvas, dan
menjadi amat bergairah. Itu adalah pemenuhan dirinya, cara ia
mengekspresikan dirinya; itu adalah pasar tempat ia memperoleh uang dan
kemasyhuran—dan itu disebutnya ”kreasi”! Setiap
penulis ber-”kreasi”, dan ada kursus-kursus ”menulis
kreatif”, tetapi tidak satu pun berkaitan dengan kreasi. Itu
semua adalah respons terkondisi dari suatu batin yang hidup dalam suatu
masyarakat tertentu.
Kreasi yang saya maksud adalah sesuatu yang lain sama sekali. Itu
adalah batin yang berada dalam keadaan kreasi. Ia mungkin mengungkapkan
keadaan itu atau tidak. Pengungkapan tidak banyak berarti. Keadaan
kreasi itu tidak punya penyebab, dan oleh karena itu suatu batin yang
berada dalam keadaan itu setiap saat mati dan hidup dan mencinta dan
berada. Itu semua adalah meditasi.
THE BOOK OF LIFE (30/09)
Batin Religius Mencakup Batin Ilmiah
Suatu
batin yang religius bebas dari segala otoritas. Dan luar biasa sukarnya
untuk bebas dari otoritas—bukan saja otoritas yang diterapkan
oleh orang lain, melainkan juga otoritas dari pengalaman yang telah
kita kumpulkan, yang berasal dari masa lampau, yang adalah tradisi. Dan
batin yang religius tidak punya kepercayaan; ia tidak punya dogma; ia
bergerak dari fakta ke fakta, dan oleh karena itu batin religius adalah
batin yang ilmiah. Tetapi batin yang ilmiah bukan batin yang religius.
Batin religius mencakup batin ilmiah, tetapi batin yang terlatih dalam
pengetahuan sains bukanlah batin religius.
Sebuah batin yang religius berminat pada totalitas—bukan dengan
suatu fungsi tertentu, melainkan dengan berfungsinya secara total
eksistensi manusia. Otak berkepentingan dengan suatu fungsi tertentu,
ia berspesialisasi. Ia berfungsi dalam spesialisasi sebagai seorang
ilmuwan, seorang dokter, seorang insinyur, seorang pemain musik,
seorang seniman, seorang penulis. Teknik-teknik yang terspesialisasi
dan menyempit inilah yang menciptakan perpecahan, bukan hanya secara
batiniah, melainkan juga secara lahiriah. Pada dewasa ini sang ilmuwan
mungkin dianggap sebagai orang paling penting yang dibutuhkan
masyarakat, seperti juga sang dokter. Dengan demikian fungsi menjadi
mahapenting; dan bersama itu terdapat pula status, status adalah
prestise. Maka bila ada spesialisasi ada pula kontradiksi dan
penyempitan, dan itulah fungsi otak.
|